Dipilih Untuk Memberitakan Injil

 


Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang kamu. (I Tesalonika 1:8 )

 

 

Orang percaya dipanggil Allah untuk memberitakan Injil, Kabar tentang pengampunan dosa yang dikerjakan Yesus di salib.

Menceritakan kabar baik tentang pengampunan dosa yang dikerjakan oleh Yesus pada kayu salib yang mendamaikan manusia berdosa dengan Allah adalah tugas misi Allah untuk jemaat di Tesalonika  dan juga umat Kristen di seluruh dunia.

 

Menceritakan Injil adalah hak asasi manusia, karena semua manusia perlu mendengar Injil. Injil adalah kebutuhan yang melekat dalam kehidupan manusia berdosa. Tanpa pengampunan dosa yang dikerjakan Yesus di kayu salib, semua manusia berdosa harus menanggung hukuman dosa.

 

Demikian juga, setiap orang yang telah mendengar cerita Injil, dan menerima berita Injil dalam hidupnya, melalui pekerjaan Roh Kudus, diberikan mandat oleh Allah untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

 

Umat Kristen yang telah dipenuhi hak nya, yakni mendengarkan cerita Injil, dengan demikian wajib untuk menceritakan Injil yang adalah tugas misi Allah untuk umat Kristen.

 

 Tugas Misi Allah

Misi Allah itu sendiri sesungguhnya bukan hanya membawa seluruh ciptaan untuk hidup dalam kebenaran, kebaikan dan memuliakan Allah pencipta langit dan bumi, tapi tugas misi Allah adalah juga menceritakan kabar baik kepada semua orang. Utamanya adalah memuridkan mereka yang menerima Injil untuk bisa hidup dalam iman yang menghasilkan pekerjaan kasih, bagi kemuliaan Allah. Jadi menerima Injil adalah jalan untuk membangun kehidupan bersama yang berkenan kepada Allah.

 

Melalui hidup dalam iman yang menghasilkan pekerjaan kasih itu, pemberitaan Injil bukan hanya sebuah verbalisme. Tapi, menceritakan Injil sekaligus menyaksikan hidup Kristen dalam iman kepada Allah yang maha kasih, dan kemudian membagikan kasih Allah itu kepada sesama manusia lewat pekerjaan-pekerjaan kasih, pekerjaan yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Kuasa Allah dalam Injil

Karena kuasa Injil ada pada kuasa Allah, dan kuasa Allah yang hidup dalam diri orang percaya telah merubah kehidupan umat Kristen untuk hidup dalam kebenaran. Selanjutnya kehidupan iman Kristen itu  yang nyata dalam pekerjaan-pekerjaan kasih, maka menceritakan Injil sekaligus juga menceritakan karya kasih Allah dalam hidup pemberita Injil.

 

Gereja di Tesalonikan dan gereja mula-mula kerap memberitakan Injil pada orang-orang disekitar mereka, dan pada daerah-daerah dimana Tuhan mengirim mereka untuk memberitakan Injil, dan secara bersamaan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih.

 

Setiap orang yang telah menerima Injil, mengalami pembaruan hidup, sadar bahwa menerima berita Injil adalah menerima sesuatu yang amat berharga, yaitu yang memberikan kehidupan kekal. Dan itu hanya mungkin karena kehadiran kuasa Allah yang menyertai pemberitaan Injil.

 

 

Pemberitaan injil dan Pemilihan Allah

Pemilihan Allah adalah kedaulatan Allah, apabila gereja mengakui sebagai umat pilihan Allah, maka tidak ada alasan bagi umat Kristen untuk tidak memberitakan Injil.

 

Umat Kristen perlu hidup di atas kebenaran Allah. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus untuk hidup berbuah serta menjalankan pemberitaan Injil.

 

Karena keselamatan adalah pekerjaan Allah, maka tidak ada alasan untuk umat Kristen berhenti memberitakan Injil karena penolakan-penolakan yang dialami, atau adanya aniaya dan penderitaan yang menghalangi pemberitaan injil.

 

Umat Kristen harus tetap antusias, bersemangat, bergairah menyampaikan cerita Injil. Antusiasme untuk memberitakan Injil akan tetap terjaga jika memang pembaruan Allah terus terjadi dalam kehidupan Kristen. Cerita Injil adalah hak asasi manusia, kebutuhan yang melekat dalam diri manusia untuk memiliki hidup kekal.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat


https://www.joyinmyworld.com/2021/08/dipilih-untuk-memberitakan-injil.html


Menerima Firman Tuhan Dengan Sukacita

 



Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja diantar kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

(I Tesalonika 1:5-7)


Menerima firman Tuhan dengan Sukacita adalah salah satu hal yang penting untuk mengalami pertumbuhan rohani.


Paulus menjelaskan dalam kitab Tesalonika, mengapa jemaat Tesalonika yang baru bertumbuh itu bisa melakukan pekerjaan baik yang memuliakan Tuhan dan memberikan kebaikan terhadap sesama geraja di Makedonia.

Jemaat Tesalonika Menerima Firman Tuhan.

Jemaat Tesalonika menerima firman Tuhan melalui pelayanan Paulus dan rekan-rekan pelayanan Paulus. Di kota Tesalonika yang merupakan kota penting itu banyak pemikir-pemikir besar dan juga pengkhotbah atau pembicara kondang yang datang pergi ketempat itu, sebagaimana layaknya pada kota-kota besar saat ini.

Ilmu pengetahuan sejatinya untuk kesejahteraan sesama manusia. Tapi, tidak jarang mereka yang memiliki pengetahuan memanfaatkan pengetahuannya untuk mengumpulkan harta dan kekayaan bagi dirnya sendiri. Itulah sebabnya dalam masyarakat yang mengalami kemajuan pesat dalam teknologi ternyata berdampak negatif bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi, yakni membuat jurang antara yang kaya dan yang miskin makin lebar.

Lebih tidak adil lagi, mereka  yang kaya itu dapat menumpuk kekayaan jauh lebih cepat dari mereka yang miskin. Jika pemerintah tidak peduli dengan hal ini, maka jurang yang kaya dan yang miskin akan makin lebar di Indonesia.

Menariknya, jemaat Tesalonika justru memilih menerima Injil. Mereka bukan hanya menerima berita Injil, tetapi juga pemberitanya sebagai keluarga, bapak rohani merekai. Artinya, jemaat di Tesalonika bukan hanya menerima berita Injil yang tidak populer pada waktu itu, tapi secara bersamaan juga siap menerima penganiayaan dan penderitaan dari kelompok-kelompok yang membenci Paulus, serta tidak senang dengan berita Injil.

Jemaat Tesalonika menerima berita Injil yang disampaikan oleh Paulus sebagi Firman Tuhan, dan itu hanya mungkin karena Roh Kudus. Karena menerima pemberitaan Injil yang disampaikan Paulus yang baru saja mengalami penganiayaan, merupakan sebuah risiko yang tidak kecil bagi jemaat di Tesalonika.

Alkitab melaporkan jemaat di Tesalonika bukan hanya menerima berita yang disampaikan Paulus, tetapi juga menerima Paulus yang akan berdampak buruk bagi mereka, yakni menerima penderitaan yang sama, seperti yang dialami Paulus. “Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima Firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi-dan memang sungguh demikian-sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. (I Tesalonika 2:13).

Mengikuti Teladan Paulus.

Jemaat di Tesalonika bukan hanya menerima firman Allah dan juga Paulus sebagai pemeberita firman Allah, tetapi jemaat di Tesalonika juga mengikuti teladan Paulus yang hidup di dalam Tuhan. Jemaat Tesalonika yang baru tentu membutuhkan teladan Paulus dan teman-teman pelayanan Paulus untuk dapat bertumbuh menjadi Kristen yang dewasa.

Pengalaman luar biasa apapun yang dialami seorang yang percaya kepada Kristus, dia membutuhkan teladan dari orang-orang Kristen dewasa. Paulus ketika percaya kepada Kristus pun belajar dari murid-murid Yesus. Dan mengikuti teladan mereka, sampai akhirnya Paulus pernah menegur Petrus untuk tetap mengikuti teladan Kristus.

Demikian juga mereka yang menjadi Kristen dewasa, perlu terus hidup menjadi teladan. Raibnya teladan-teladan dari orang Kristen yang dewasa akan menyulitkan pertumbuhan orang Kristen baru, dan secara bersamaan menghalangi orang-orang yang belum percaya untuk melihat kehidupan Kristus dalam hidup orang percaya.

Semua orang yang mengaku diri percaya kepada Kristus harus waspada menjaga hidupnya, agar dapat menjadi berkat bagi orang percaya baru, untuk hidup mentaati Allah. Dan juga menjadi berkat secara luas bagi sesama manusia.

Hidup menjadi Teladan

Setiap orang percaya perlu hidup menjadi teladan atas sesama anggota gereja. Kehidupan Kristen yang baik dapat memotivasi orang Kristen lainnya untuk hidup memuliakan Tuhan dan melakukan yang baik. Tapi, secara bersamaan kehidupan Kristen yang tidak menjadi teladan akan mengecewakan orang Kristen lainnya.

Pengakuan bahwa jemaat di Tesalonika hidup menjadi teladan bagi sesama gereja lokal diteguhkan oleh Paulus, “Sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di Wilayah Makedonia fan Akhaya.” Keteladanan jemaat di Tesonika bukan pengakuan eksklusif jemaat itu, tetapi Paulus dan jemaat Kristen Lainnya mengakui itu.

Umat kristen perlu menjadi teladan satu sama lain ketika mereka menerima Firman Tuhan, yang secara bersamaan juga menerima pemberita Firman Tuhan, dan mengikuti teladan mereka untuk bertumbuh dewasa dalam Kristus. Kristus sebagai teladan utama.

Kesediaan untuk menerima penderitaan untuk memuliakan Tuhan, dan kemudian menjadi teladan iman bagi jemaat lokal lain sebagaimana kehidupan jemaat Tesalonika perlu menjadi tekad umat Kristen. 

Iman, Pengharapan dan kasih adalah kebajikan Kristen yang menjadi dasar kehidupan jemaat di Tesalonika.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat