Pemimpin Berkarakter




  “Seorang pemimpin belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan, seorang pemimpin juga belum tentu menjalankan peran kepemimpinan. Namun, seorang memiliki kualitas memimpin dan menyumbangkan peran kepemimpinannya belum tentu dan tidak harus berjabatan pemimpin”. Tetapi idealnya mereka yang memiliki kualitas kepimpinan yang layak menjadi pemimpin



Sumatera, Indonesia, Gereja, Agama, Danau, Toba, Biru



Teladan Pemimpin

Kepemimpinan tidak bisa diajarkan, tetapi dididik. Yang dimaksud disini tentu saja adalah pentingya teladan, sebagaimana adanya sebuah proses pendidikan. Tanpa teladan, pendidikan bukanlah pendidikan, melainkan sekadar pengajaran yang adalah bagian dari pendidikan. Dengan demikian jelaslah tidak mudah untuk kita memilih seorang pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang baik. Meskipun kita telah banyak belajar mengenai teori-teori kepemimpinan.

 Apabila warga gereja memiliki kepemimpinan yang baik, bukan hanya gereja yang diberkati, tetapi juga dunia ini. Warga gereja yang memiliki kepemimpinan yang baik akan sanggup mendidik pemimpin-pemimpin di luar gereja untuk kemudian memajukan Indonesia dan dunia ini.


Gereja memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghadirkan pemimpin yang baik, karena Yesus adalah pemimpin yang baik, dan telah memberikan teladan dalam menjalankan peran kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan Yesus ini tersohor dengan sebutan Kepemimpinan yang melayani.


Pemimpin dan Kepemimpinan

 Pemimpin adalah Orang yang memiliki kecakapan, kelebihan sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas -aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Pemimpin Kristen adalah pribadi yang dipilih Allah dan memiliki sifat-sifat alamiah yang diperlukan seorang pemimpin, dan sifat-sifat spiritualitas

Pengertian Kepemimpinan menurut S.P. Siagian adalah kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan dalam suatu pekerjaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya supaya berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ini memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.

Menurut Prof. Kimbal Young, Pengertian Kepemimpinan ialah bentuk dominasi didasari kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu, berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.


Ordway Tead di dalam bukunya The Art of Leadership, menyatakan sebagai berikut : Pengertian Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


Pengertian Kepemimpinan menurut George R. Terry adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. 

Menurut Howard H. Hoyt, Pengertian Kepemimpinan ialah seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kamampuan untuk membimbing orang.

Dari pengertian kepemimpinan diatas, dapat dikemukakan bahwa pada kepemimpinan itu terdapat unsur-unsur, sebagai berikut :

1. Kemampuan mempengaruhi orang lain, dalam hal ini bawahan atau kelompok.

2. Kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain.

3. Untuk mencapai tujuan organisai atau kelompok 

Kepemimpinan Kristen

“Kepemimpinan adalah pengaruh.” (Oswald J. Sanders)“Tugas utama pemimpin adalah mempengaruhi umat Allah untuk melaksanakan rencana Allah.” (Robert Clinton)“Seorang pemimpin Kristen yaitu seorang yang dipanggil oleh Allah untuk memimpin; dia memimpin dengan dan melalui karakter seperti Kristus; dan menunjukkan kemampuan fungsional yang memungkinkan kepemimpinan efektif terjadi.” (George Barna)“Kepemimpinan rohani adalah menggerakkan orang-orang berdasarkan agenda Allah.” (Henry & Richard Blackaby)

Memiliki pemimpin seperti Kristus adalah tidak mewah melainkan sebuah kebutuhan. Memberikan peluang bagi para pemimpin untuk tumbuh adalah penting untuk transformasional dan pertumbuhan Gereja. Kecuali kita menemukan, menyediakan, mempromosikan dan memperbanyak kepemimpinan terbaik peluang pembangunan di seluruh dunia, hasilnya akan menjadi tragis. Kepemimpinan yang buruk akan menahan kemajuan Gereja. 

Dari beberapa definisi di atas terlihat bahwa kepemimpinan rohani memiliki persamaan dengan kepemimpinan umum dalam hal mempengaruhi atau menggerakkan orang lain, mensyaratkan kemampuan fungsional dan membimbing kepada tujuan tertentu. Sedangkan perbedaannya, kepemimpinan rohani berdasarkan panggilan Allah, bukan dari manusia atau organisasi; melaksanakan tugas dalam lingkup agenda/rencana Allah, dengan berdasarkan karakter Kristus, dan menuntun kepada tujuan yang Allah kehendaki, bukan tujuan organisasi atau manusiawi.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.joyinmyworld.com/2020/06/pemimpin-berkarakter.html


Corel Store

Pluralitas Agama Bukan Ancaman

 

Clip Studio Paint Pada Konsultasi Teologi Nasional Persekutuan gereja-gereja di Indonesia (31 oktober- 4 November 2011) di Cipayung dengan tema, “Berjuang Mewujudkan Perdamaian dan Keadilan” disimpulkan  bahwa larangan beribadah dan penutupan rumah ibadah secara paksa oleh kelompok -kelompok tertentu semakin banyak terjadi.  Itu membuktikan, di negeri yang amat beragam ini, masih terdapat kelompok-kelompok yang memusuhi keberagaman agama-agama.

 Ubud, Indonesia, Candi, Bali, Sejarah

Lebih lanjut, Konsultasi Teologi tersebut menegaskan, “sebagian besar orang memang mengakui keberagaman dan perbedaan agama-agama, namun keragaman itu dilihat dengan sikap curiga dan merasa terancam, sehingga tidak terjadi pergaulan yang saling memperkaya.”Masih banyak individu atau kelompok yang memandang keberagaman agama-agama bukan sebagai kekayaan yang harus disyukuri melainkan dianggap sebagai malapetaka.

 

Terbukti, sampai akhir Oktober  2011, berdasarkan laporan Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI), telah terjadi penutupan dan ancaman terhadap 34 Gereja di negeri ini. Rentetan peristiwa ancaman kekerasan agama tersebut makin bertambah panjang dengan terjadinya gangguan terhadap 9 buah gereja di kampung rawa kalong, Desa Setia Mekar, Kecamatan Tambun selatan, kabupaten bekasi, Jawa Barat pada bulan November yang baru lalu.  Dan pada awal Desember, bulan dimana seringkali ancaman terhadap kebebasan beragama kerap terjadi, lima buah gereja di Kecamatan Pracimantoro, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, juga mengalami gangguan.

Pada 2011 tercatat  47 Gereja mengalami gangguan di tanah air ini. Jadi, ancaman terhadap kebebasan beribadah di negeri ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Menjelang perayaan Natal tahun ini, jika pemerintah tidak segera mengantisipasinya Gereja-gereja yang mengalami gangguan pada tahun ini bisa lebih banyak lagi. Artinya, ancaman terhadap kebebasan beragama pada tahun ini bisa jadi akan lebih hebat dibandingkan tahun -tahun sebelumnya.

 

 

Bergerak mundur

 

Hubungan antar agama di negeri ini bisa dikatakan sedang bergerak mundur dari hubungan yang bersifat saling memperkaya, creative proexistence, ke level yang lebih rendah yakni hubungan yang sekadar tidak saling mengganggu (live and let die). Agama-agama hidup bersama tapi tak memiliki kerjasama yang baik sehingga tak terjadi pergaulan yang saling memperkaya. Realitas tersebut bertolak belakang dengan masa lalu negeri ini.

 

Masyarakat Indonesia mulanya hidup saling memerhatikan dan saling memercayai. Indonesia terkenal dengan pluralismenya dan semangat interdepedensi agama-agama yang tinggi. Indonesia tersohor dengan sebutan surganya agama-agama. Di Indonesia agama-agama mendapatkan tempat persemaiannya yang subur. Itulah sebabnya   agama-agama besar yang berasal dari luar negeri ini, seperti Islam, Kristen, Hindu,  Budha serta Kong Fu Tsu dapat bertumbuh subur. Bahkan agama-agama itu kemudian bercampur menjadi aliran-aliran kebatinan yang hingga kini tetap eksis di negeri ini.

 

Pancasila dengan semangat Bhineka Tunggal Ika Nya menjadi payung yang lebar bagi semua agama-agama yang berbeda dan beragam, dan agama-agama yang berbeda dan beragam itu diterima sebagai kekayaan dan bukan sebagai ancaman. Jadi, sikap curiga antaragama bukanlah warisan leluhur bangsa ini. Bisa dipastikan, makin tergerusnya nilai-nilai ke-Indonesiaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila adalah penyebab utama raibnya rasa saling percaya antarwarga bangsa di negeri ini.

 

Hubungan harmonis antar agama-agama yang lama bersemi di negeri ini lambat laun kian memudar, hubungan antar agama bergerak mundur menjadi hubungan yang penuh kecurigaan, dan perasaan terancam. Khususnya setelah berakhirnya era absolutisme Soeharto. Kekerasan agama-agama meledak di berbagai tempat di seantero negeri ini. Ironisnya, pemerintah era reformasi seakan tak berdaya meredam maraknya kekerasan agama di negeri ini.

 

Meningkatnya intoleransi agama di negeri ini diteguhkan dengan maraknya cluster-cluster yang membelah masyarakat berdasarkan agama. Cluster-cluster masyarakat berdasarkan agama di negeri ini terus menguat, dan parahnya usaha integrasi antar kelompok itu justru makin melemah.

 

 

Pluralitas bukan ancaman

 

 

Intoleransi agama yang berujung pada diskriminasi dan kekerasan agama sesungguhnya melanggar konstitusi  negeri ini yang mengatur hak setiap warga negara untuk beribadah. Pemerintah sebagai penerima mandat konstitusi tidak boleh membiarkan penyerangan terhadap kebebasan beragama terjadi di negeri ini. Sebaliknya pemerintah harus konsisten mendorong kehidupan yang saling menghargai antarwarga bangsa yang berbeda dan beragam agama.

 

Tidak tuntasnya penyelesaian kasus penutupan, penyegelan, sampai pada perusakan dan  pembakaran rumah ibadah yang terjadi di negeri ini  telah menjadi preseden buruk bagi  penegakan HAM di Indonesia. Pembiaran terhadap kasus tersebut telah melahirkan banyak kasus di berbagai daerah di Indonesia.  Akibatnya, ancaman terhadap kebebasan beragama terus berlangsung di negeri ini. Pluralitas agama masih di tolak oleh banyak orang di negeri karena minimnya konsisitensi pemerintah dalam menangani kasus-kasus bernuansa agama.

 

Lemahnya konsisitensi pemerintah dalam memberikan proteksi kebebasan beribadah terlihat jelas pada kasus penutupan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin. Sejak 2008, umat GKI Yasmin berjuang untuk mendapatkan hak mereka yang dilindungi oleh konstitusi, bahkan perjuangan itu mendapatkan dukungan umat berbagai agama yang pro-pluralisme, namun IMB yang telah mereka dapatkan  secara sepihak dibekukan oleh Pemerintah Kota Bogor. Meski telah memenangi  gugatan di PTUN Bandung, bahkan telah dikuatkan oleh putusan Mahkamah Agung (MA), Wali kota  Bogor Diani Budiarto bergeming dengan sikapnya, yakni tetap membekukan IMB GKI Yasmin, bahkan melarang umat beribadah di lokasi tersebut.

 

Herannya, pemerintah pusat tetap tak bereaksi. Padahal, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi  mengakui bahwa peristiwa itu akan menciptakan instabilitas Kota Bogor setelah beberapa partai politik mencabut dukungannya kepada Diani Budiarto.

 

Pemerintah, sebagai pemegang mandat konstitusi bertanggung jawab langsung untuk menegakkan konstitusi. Pemerintah harus aktif memproteksi hak kebebasan beragama setiap warga negara yang memeluk agama apapun. Karena pluralitas agama adalah realitas yang diakui oleh konstitusi di negeri ini.

Sikap tegas pemerintah terhadap kelompok-kelompok intoleran yang gemar melakukan kekerasan tentu saja akan mendapat dukungan mayoritas rakyat di negeri ini. Sikap tegas pemerintah dalam berpegang pada konstitusi akan berbuah manis, yakni bertumbuhnya semangat toleransi yang merupakan nilai-nilai bermutu bangsa ini, sehingga keberagaman agama-agama dapat diterima sebagai sebuah kekayaan, bukan ancaman.

 

Binsar A. Hutabarat


https://www.joyinmyworld.com/2020/07/pluralitas-agama-bukan-ancaman.html


Clip Studio Paint

KASIH SETIA TUHAN SAAT WABAH CORONA


Mazmur 139:13-16

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.


Yesaya 46:4

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Yesaya 46:4, sepatutnya menjadi nyanyian yang kita kumandangkan tiap-tiap hari. Ayat itu berisi sebuah keyakinan yang menjadi dasar bahwa Allah Pencipta langit dan bumi yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang berdaulat dan setia.  Pada masa wabah virus corona ini kita mesti tetap percaya bahwa Allah yang setia senantiasa ada bersama dengan kita dalam kondisi dan situasi apapun.

 

KEHEBATAN ALLAH DALAM PL          

Umat Allah pada jaman Perjanjian lama menjadikan Yesaya 46:4 sebagai penghiburan, dan ayat ini adalah ayat penghiburan bagi umat Allah yang mengalami tantangan dan kesulitan dalam mengikuti panggilan Tuhan. Allah adalah Allah yang setia yang memelihara kita sejak berada dalam kandungan sampai kita berjumpa dengan Allah. Allah yang setia itu tidak pernah meninggalkan orang yang percaya. BETAPA HEBATNYA TUHAN!

UMAT ALLAH KERAP TIDAK SETIA DENGAN TUHAN, BERPALING DARI ALLAH, TAPI ALLAH TETAP SETIA. MEREKA YANG BERBALIK KEPADA ALLAH TAK PERNAH DITOLAK ALLAH YANG SETIA.

Kita perlu terus berjuang menjaga diri untuk tidak terpapar corona dengan mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah, secara bersamaan kita juga memohon Tuhan memampukan kita menjaga diri agar tidak menjadi media penularan virus corona kepada orag lain.

 

KESETIAAN ALLAH DASAR PENGHIBURAN SAAT WABAH CORONA

Allah Pencipta yang Setia itu tak pernah membebani kita, tetapi Allah senantiasa siap memikul beban kita. Kematian Kristus di kayu salib adalah bukti kasih Allah yang tak terbatas. TUHAN YESUS JURUSELAMAT MANUSIA BERDOSA

Mengenal Allah pencipta yang peduli terhadap kita, sejak dilahirkan, hingga usia KITA SAAT INI, dan kepeduliaan Allah itu kita rasakan dalam setiap moment kehidupan kita, adalah sangat menghiburkan. LIHATLAH JEJAK LANGKAH KITA, KITA AKAN HERAN BAGAIMANA KITA BISA ADA SEBAGAIMANA KITA ADA SAAT INI. 

HIDUP ADALAH PERGUMULAN, Karena kita masih berada dalam tubuh berdosa, NAMUN PERGUMULAN ITU DAPAT KITA LEWATI BERSAMA ALLAH YANG BESAR yang telah memerdekakan kita dari kuasa dosa,

 

HIBURKANLAH SAUDARA-SAUDARA KITA YANG MENDERITA SAAT WABAH CORONA, DAN BUKANNYA MEMBERIKAN STIGMA PADA MEREKA YANG POSITIF TERINFEKSI CORONA

 

Umat Allah patut mengagungkan kedaulatan Allah, kasih setia Allah yang kekal, dan tak berubah dengan menghiburkan saudara-saudara kita yang terinfeksi corona, demikian juga tenaga medis yang berjuang membendung wabah corona. 

Binsar Antoni Hutabarat

KERUKUNAN BERAGAMA, SUARA NURANI UMAT BERAGAMA



Pada tahun-tahun belakangan ini memang konflik antarumat beragama di negeri ini terus meningkat, namun usaha masyarakat sipil yang semakin besar untuk mengembangkan kerukunan beragama mestinya juga mampu memotivasi pemerintah untuk memaksimalkan fungsinya  demi mengembalikan  kerukunan beragama yang pernah bersemayam di negeri ini.

Pada galibnya, kerukunan beragama merupakan panggilan agama-agama, karena itu  mestinya agama-agama tak mengenal kata lelah untuk mengusahakan kerukunan diantara agama-agama yang berbeda dan beragam. Apabila umat beragama di negeri ini tetap konsisten dalam mengusung misi perdamaian agama-agama itu, maka  kerukunan bergama tak perlu dipaksakan. Keinginan untuk hidup rukun ada pada sanubari setiap umat beragama. Hidup  rukun merupakan semangat agama-agama.

Kebebasan Nurani sebagai dasar
Mengutip apa yang dikatakan Os Guinnes “Jika kita tidak bisa  menyampaikan apa yang kita imani di ruang publik, itu berarti  pengabaian hak kita sebagai manusia.”Kebebasan menyembah Tuhan baik secara pribadi maupun secara berkelompok adalah hak yang paling asasi dalam diri manusia, dan mengabaikan hak itu sama saja dengan menyangkali martabat kemanusiaan. Kebebasan hati nurani (freedom of conscience) merupakan hal yang amat penting dalam setiap masyarakat. Kebebasan hati nurani sesungguhnya merupakan dasar bagi  kebebasan berbicara (freedom of speech), dan kebebasan berkumpul (freedom of assembly).

Pengakuan kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani merupakan syarat utama bagi hadirnya saling pengertian bersama yang menjadi pengikat yang kuat dalam hubungan  antar anggota masyarakat, dasar yang amat penting bagi lahirnya kehidupan yang harmonis dalam sebuah masyarakat.

Apabila seseorang dilarang untuk menyembah Tuhan baik secara perorangan maupun berkelompok, bagaimana mungkin umat beragam agama itu bisa hadir pada ruang publik secara medeka serta menghadirkan keharmonisan dalam hubungan dengan sesama.

Kerukunan antar umat beragama pada galibnya tidak boleh menafikan hak kebebasan beragama, sebuah hak yang tidak boleh ditangguhkan dalam keadaan apapun. Tepatlah apa yang pernah dikatakan oleh Johan Effendi, mantan ketua litbang Departemen Agama RI, prinsip kebebasan beragama berisi pengakuan dan jaminan bahwa setiap orang bebas dan merdeka menganut agama yang diyakininya. Prinsip ini, jauh-jauh hari juga telah ditegaskan oleh  Kyai Haji Agus Salim, seorang tokoh Islam yang terlibat langsung dalam merumuskan Pancasila dan UUD 1945.

Pemberian kebebasan beragama dalam hal ini penting untuk mengoptimalkan fungsi agama-agama bagi perdamaian. Kerjasama antar agama kemudian bisa menjadi tempat dimana agama-agama itu dapat mempromosikan kebaikannya. Sebaliknya, Pembelengguan agama hanya akan menimbulkan “balas dendam” agama, meminjam istilah Gilles Kepel, yang terbaca jelas pada legitimasi kekerasan pada aksi terorisme.

Binsar Antoni Hutabarat



Gereja Sebagai Persekutuan keluarga Allah



Gereja adalah tubuh yang hidup, melalui pelayanan satu dengan yang lain, gereja menampakkan pertumbuhannya. Anggota gereja yang beragam itu melayani satu dengan yang lain untuk memelihara kesehatan dan kehidupan gereja sebagai keluarga Allah.

Anggota gereja yang lebih tua perlu mengajarkan anggota gereja yang lebih muda, juga mendorong anggota yang lebih muda untuk bertahan dalam masa kesulitan. Untuk itu pemimpin rohani yang bertanggungjawab memperlengkapi jemaat untuk dapat melayani. Pemimpin rohani tentu saja tidak dapat mengerjakan semua tugas pelayanan seorang diri. Tanpa kerjasama peyanan gereja akan melemah. Dan apabila setiap anggota jemaat menghujat pemimpin rohani mereka, maka persekutuan gereja akan makin melemah, dan akhirnya terpecah=pecah.

Gereja sebagai persekutuan keluarga Allah perlu menolong anggota gereja yang memerlukan pertolongan khusus, antara lain kepada:
1. Mereka yang melanggar aturan gereja.

  Apbila gereja tidak memiliki aturan atau standar, maka gereja akan kacau. Namun, dalam gereja kerap ada anggota yang melanggar aturan atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan gereja lokal. Adalah sebuah kesedihan jika anak dalam keluarga mengabaikan aturan dan stanfar yang ditetapkan dalam rumah tangga. Biasanya dengan alasan kebebasan ada saja anggota gereja yang melanggar aturan atau standar yang ditetapkan. Mereka yang melanggar aturan atau standar gereja dengan argumen tertentu atau dengan alasan kebebasan bisa menimbulkan perpecahan dalam gereja. Pada kondisi ini gereja mesti sabar untuk menolong anggota gereja tersebut kembali apada aturan atau standar yang telah ditetapkan gereja.

2. Mereka yang putus asa.
Tidak jarang dalam kehidupan keluarga Allah, gereja ada anggota-anggota yang putus asa.  Anggota gereja yang seperti itu perlu didorong, dimotivasi untuk tetap tekun berharap kepada Tuhan. Anggota-anggota gereja yang lain, yang kuat perlu mendorong anggota jemaat yang putus asa itu untuk menjadi kuat dan tetap setia dalam  kesulitan apapun untuk bergantung pada Tuhan.

3. Mereka yang lemah.
Tidak semua anggota gereja dapat bertumbuh dalam pemahaman Alkitab yang kuat. Pertumbuhan rohani anggota jemaat ada juga yang lambat. Mereka yang lemah adalah anggota jemaat yang perlu ditopang untuk bertumbuh dalam Tuhan. Mereka yang lemah biasanya belum mampu menghadapi tantangan pergaulan yang beragama. Anggota-anggota itu perlu ditopang untuk terus bertumbuh dalam Tuhan dan menjadi kuat dalam Tuhan.

4. Kesabaran Membangun Persekutuan Keluarga.
Membangun persekutuan keluarga yang kuat butuh kesabaran. Mereka yang lemah pada suatu saat mungkin akan menjadi pemimpin-pemimpin gereja yang kuat. Karena itu gereja dan anggota gereja yang kuat perlu kesabaran untuk membangun persekutuan keluarga Allah.

5. Motif Pelayanan
Motif melayani Tuhan yang benar, yakni untuk kemuliaan Tuhan merupakan kunci untuk memiliki ketekunan dan kesabaran dalam memelihara persekutuan keluarga Allah. Apabila anggota gereja melayani utnuk dapat diterima atau berpusat pada diri sendiri, maka anggota gereja itu akan kecewa. Tapi jika motif pelayanan adalah utnuk memuliakan Tuhan, respon apapun yang diterima anggota gereja ketika melayani sesamanya, dia akan tetap bertekun dalam pelayanan, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Karena pembalasan adalah hak Allah. Jika kita melayani Untuk memuliaka Allah kita tidak akan pernah kecewa.

6. Sukacita Menanggung beban Pelayanan.
Kasih, Sukacita, damai sejahtera, Kesabaran yang adalah karakteristik rohani adalah bagian dari buah roh. Manusia tidak dapat menghasilkan kualifikasi-kualifikasi rohani itu. Manusia hanya dapat menghasilkan kualifikasi-kualifikasi rohani itu jika mengijinkan dirinay dikuasai Roh Kudus.

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa persekutuan keluarga Allah adalah penting untuk gereja dapat bertumbuh dengan sehat. Gereja harus menolong setiap anggota jemaat yang memerlukan pertolongan, dan secara bersamaan anggota gereja saling belajar untuk saling tolong menolong untuk menghadirkan gereja yang lebih rohani dan sehat.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat, M.Th,


Kebebasan dan Kewajiban Kristen



Apa yang kita percaya dan bagaimana kita bertingkah laku mestinya selaras. Paulus biasanya menghubungkan dengan istilah doktrin dan tugas. Apa yang Allah telah kerjakan untuk kita itulah yang memotivasi kita untuk mengerjakan sesuauatu yang sesuai dengan kehendak Allah.


Kita dimerdekakan oleh Allah utuk melaksanakan misi Allah, yang menjadi kewajiban kita. Kebebasan Kristen adalah untuk melaksanakan perintah Allah. Dibebaskan untuk menjadi seperti Kistus. Manusia sejati yang bebas dan melakukan perintah Allah. Kebebasan dalam kehidupan kristen tidak perlu dipertentangkan dengan kewajiban untuk melaksanakan hukum-hukum Allah atau perintah-perintah Allah.

Terkait relasi antara kebebasan dan kewajiban setidaknya ada tiga pandangan yang kemudian membentuk Pola etika. Yakni Pola Etika Heteronom (Kaidah yang lain, diluar diri manusia), kaidah  otonomi (kaidah diri sendiri), Teonomi (kaidah Tuhan).

Mereka yang mengikuti pola heteronomi beranggapam bahwa apa yang Tuhan perintahkan harus dilakukan, apakah kita setuju atau tidak setuju itu tidak penting, demikian juga apakah kita mengerti atau tidak, yang jelas apa yang Tuhan katakan dalam Alkitab harus dilakukan.

Memegang pola ini akan mengakibatkan seseorang jatuh pada legalisme. Seperti orang farisi yang menganggap diri paling benar dan telah melakukan Firman Tuhan dengan benar. Tidak ada orang yang lebih benar dari mereka. Sayangnya, kita tahu mereka yang jatuh pada legalisme ini sangat keras pada diri sendiri, tetapi tidak untuk diri sendiri.

Seperti orang-orang Farisi yang gemar menghukum orang lain, gemar mencela orang lain orang berdosa, sesat dan jauh dari Allah. Alkitab mengatakan mereka melihat kuman di seberang lautan, atau kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Itulah bahaya legalisme.

Disamping itu, mereka yang memegang pola etika ini juga merendahkan dirinya sebagai manusia. Melakukan tindakan lahiriah tanpa selaras dengan motif pelaku. Memisahkan masalah batin dan lahiriah.  Padahal seharusnya apa yang kita lakukan selaras dengan motif yang ada di dalam batin kita.

Dikatakan merendahkan manusia, karena tindakan ini menyangkali adanya kebebasan manusia. Karena hukum-hukum itu berasal dari luar diri manusia, maka manusia harus mengikuti saja apa yang dikatakan Tuhan, Dan manusia yang melakukan kewajiban itu terpaksa melakukannya, dan karena terpaksa melakukannya, maka mereka merasa tidak bertanggung jawab atas dampak yang terjadi atas tindakan mereka. Itu bukan urusan saya, tapi itu urusan tuhan.

Pandangan yang kedua adalah pandangan otonomi. Mereka mengatakan, manusia tunduk pada patokan-patokanyang ditetapkan oleh rasio manusia yang dtetapkan oleh rasio yang bersifat universal. Ungkapan yang tersohor dari kelompok ini adalah, saya wajib maka saya mampu. Kewajiban mutlak. Imperatif Kategori dalam istilah Kant.

Orang-orang itu mungkin perlu bertanya dalam hati mereka, seandainya semua orang berkelakuan sesuai dengan kelakuan diri kita, apakah dunia ini menjadi lebih baik ataukah justru lebih buruk?

Jadi, asal lulus ujian rasio, kewajiban etis dapat dikenal sebagai kewajiban mutlak. Mereka mengakui bahwa kewajiban moral adalah perintah ilahi. Dan untuk melakukan itu eksistensi Allah diperlukan.

Pahlawan moral seperti ini akan terus jalan tanpa Allah. Kebanyakan orang seperti ini , menyukai hidup dibawah rezim otoriter. Tampak jelas etika ini sama saja dengan heteronomi yang menetapkan hak-hak dan kewajiban yang hanya mesti diterima saja. Karena lulus ujian rasio karena itu harus dilakukan.

Saya setuju, tidak ada tata moral yang berdiri di antara kita dan Allah. Tak ada kewajiban rasional yang mendahului perelasian kita dengan Allah. Jika tidak ada relasi antara Allah dan manusia, maka manusia tidak mungkin dapat melaksanakan kewajibannya dalam kebebasannya.

Manusia menjadi manusia dalam kebergantungan dengan Allah. Manusia tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam kebebasannya tanpa bergantung dengan Allah. Di dalam kebergantungan dengan Allah itulah manusia memiliki kebebasannya, dan sekaligus dapat melaksanakan kewajibannya.

Dalam alam demokrasi di Indonesia gereja dan agama-agama harus bisa menempatkan diri secara tepat. Jika tidak maka disintegrasi bangsa menjadi taruhannya, apalagi dengan ditempatkannya agama pada posisi yang terhormat pada negeri ini,

Agama-agama bukan hanya perlu hidup berdampingan dengan agama-agama lain, tetapi juga dengan berbagai denominasi gereja, bahkan dengan mereka yang disebut bidat sekalipun. Gereja-gereja di Indonesia perlu berpikir maju, dan tidak sekadar mengikuti pengalaman tokoh-tokoh agama pada masa lampau.

Teologi itu tidak pernah lahir di ruang hampa. Gereja-gereja di Indonesia harus bisa merumuskan teologinya dan mengambil sebuah keputusn etis bagaimana menjaga kerukunan hidup bersama dengan denominasi gereja yang beragam dan juga dengan agama-agama lain.

Mereka yang berlaku arogan dengan dengan denominasi gereja lain mesti mempertimbangkan apa jadinya, kalau sikap arogan itu juga dilawan dengan sikap arogan kembali. Jangan berlindung di alam demokrasi untuk untuk mengingkari tanggung jawab membangun sebuah demokrasi yang sehat.

Kalau memang gereja-gereja di Indonesia hidup untuk memuliakan Tuhan dalam pertolongan Tuhan, maka sejatinya bukan arogansi denominasi atau agama yang muncul, tapi sikap saling membangun kehidupan yang sehat dalam hidup bersama untuk merawat kehidupan.

Kita jangan lupa, konteks gereja masa lampau berbeda dengan alam demokrasi saat ini. Dan juga jangan terlena dengan jaman kejayaan gereja yang menguasai negara, yang berakibat kepemimpinan gereja pada abad pertengahan justru menjadi abad kegelapan gereja.

Jika Tuhan mengijinkan denominasi lain ada, janganlah cepat-cepat mengatakan mereka yang berbeda penafsiran dengan kita itu sesat. Karena bisa jadi hanya ada perbedaan kecil, dan banyak kesamaan yang jauh lebih besar.

Gereja memang punya kewajiban untuk menjaga kemurnian gereja, tapi pertanyaannya apakah pemurnian gereja yang kita lakukan akan membuat gereja lebih baik?

Mereka yang menganggap ibadahnya paling benar, doktrinnya paling benar, sama saja menyangkali keterbatasannya memahami Firman Tuhan. Aneh bukan, mereka yang menganggap menjadi pembela-pembela kebenaran, penjaga kemurniam gereja saat ini mengapa menjadi sangat arogan?

Apakah para rasul memang arogan? Menurut saya Tak ada para rasul yang arogan, mereka hanya menyaksikan apa yang mereka percaya. Lihatlah bagaimana Paulus berdiskusi di Areopagus. Bahkan menjelang kematiannya Paulus mengatakan, bahwa dari antara para rasul dialah yang paling berdosa. Berbeda dengan kita yang menganggap diri paling benar, paling suci. Paling murni. Saya juga tidak paham seberapa murnikah doktrin gereja-gereja itu. Sebagai seorang peneliti, tentu saya paham, tidak ada pemahaman kita yang orisinil, kita belajar dari banyak orang, dan kita mengembangkan pemikiran-pemikran teologi yang telah ada itu. Jadi, kenapa harus berhenti untuk terus belajar lebih mendalam?

Hidup harmoni dengan sesama gereja itu penting, demikian juga dengan sesama manusia. Dari hidup bersama itulah kita bisa menyaksikan Kristus yang hidup. Apalagi kita hanya menunjuk kepada Yesus. Bukan pada kita.

Yang perlu kita renungkan adalah, apakah dalam hubungan antar gereja dan antar sesama kita telah melaksanakan kebebasan kita dengan tepat, dan juga melaksanakan kewajiban-kewajiban kita. Hanya dalam Yesus kita bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban kita, menjalankan misi Allah dan dalam kebebasan, dan itu hanya mungkin kita lakukan dalam rekasi dengan Tuhan.
Apakah kita masih merasa diri lebih baik dari orang lain. Waspadalah.


Dr. Binsar A. Hutabarat







Partisipasi Rakyat Untuk Demokrasi




Kita tentu setuju, bahwa dalam permainan bersama dalam suatu masyarakat, semua individu yang diciptakan sederajat itu harus ikut bermain, dan tidak ada satupun yang boleh dijadikan obyek permainan. 

Semua individu adalah pemain, karena setiap individu memiliki sumbangsih yang berbeda-beda, dan memiliki peran penting dalam permainan tersebut. Suatu permainan yang akan membahagiakan semua. 

Hadirnya demokrasi yang bersih dan bermartabat hanya mungkin jika semua elemen masyarakat terlibat aktip dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung serentak pada Desember tahun ini.

Keterlibatan rakyat dalam hal ini sangat penting dalam memilih calon kepala daerah yang memiliki kapasitas untuk jabatan tersebut, itu bukan hanya ditentukan oleh tingkat pendidikan calon, ataupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tapi juga karakter dan moralitas calon tersebut. 

Untuk memilih calon berkarakter tentu saja tidak mudah, ini membutuhkan relasi yang baik dengan sang calon. Media dalam hal ini sangat berperang penting dalam publikasi calon secara seimbang, khusunya rekam jejak calon kepala daerah.  Rakyat harus melihat rekam jejak calon tersebut secara baik, dan dengan dasar itulah kemudian menentukan pilihannya.

Tanpa moralitas penguasaan iptek bisa menjadi alat menghancurkan budaya Indonesia, dan juga menghancurkan manusia Indonesia. Sebagaimana kita paham bahwa Politik bisa menjadi alat untuk menghinakan martabat kemanusiaan ditangan mereka yang jahat dan tak bermoral. 

Sebaliknya,  jabatan politik ditangan orang-orang berkarakter dan bermoral juga  bisa menjadi alat  untuk menyejahterakan manusia, untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan. Demikian juga memilih calon kepala daerah yang menguasai Iptek tinggi tanpa moralitas akan sangat berbahaya bagi kelangsungan negeri ini.


Indonesia memerlukan pemimpin yang tidak hanya pandai, memiliki kemampuan manajerial yang tersohor, tetapi juga memiliki sifat kepahlawanan. Pemimpin yang memiliki sifat kepahlawanan  adalah pemimpin yang berani membela dan menyuarakan kebenaran, yang menguntungkan semua orang tanpa perbedaan, dan yang mendatangkan kebaikan bagi semua masyarakat. 

Hadirnya pemimpin-pemimpin yang baik akan memperkuat persatuan bangsa, dan kesatuan bangsa, dan ini juga menjadi kebutuhan amat penting masyarakat.

Wabah corona yang menghantam Indonesia dan juga dunia, yang kemudian melahirkan gaya hidup baru untuk bersahabat dengan corona, artinya tetap menjalani hidup meskipun corona belum mampu kita tuntaskan, dan menjalani hidup dengan bersahabat dengan corona artinya, meskipun corona belum mampu kita punahkan, corona masih menjadi ancaman, kita tetap bisa menjalani hidup dengan tetap waspada untuk tidak tertular dan menularkan virus corona.

Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin-pemimpin berkarakter yang selalu ingin maju, terus berubah, dan berani melawan perubahan hidup. Bagaimanpun beratnya kehidupan, manusia harus menjalaninya, dan menjalani hidup bersama dengan bersatu saling tolong menolong adalah jalan terbaik.

Pada konteks itu kepemimpinan yang handal dan berkarakter menjadi sebuah keharusan. Kiranya kehidupan baru yang sedang kita jalani ini, berdamai dengan corona, membuat kita juga berjuang untuk berdamai dengan sesama untuk kemudian memunahkan corona bersama.


Dr. Binsar A. Hutabarat


Guru, Pendidik professional


 


Learn more about Corel WordPerfect Office 

Guru sebagai jabatan profesional bukan hal yang baru, di negara-negara maju, seperti AS dan Jerman, yang menjadikan sekolah sebagai lembaga untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan mengarahkannya sesuai dengan kemampuan dasar; bakat, dan minatnya, telah lama menjadikan jabatan guru sebagai jabatan profesional yang pendidikannya setara dengan pendidikan jabatan profesional lainnya, yaitu dokter dan pengacara.

Hubungan yang kuat antara guru dan peserta didik merupakan pusat proses pengajaran. 

Pengetahuan bisa diperoleh dalam berbagai cara, apalagi dengan penggunaan teknologi baru di dalam kelas yang telah terbukti efektif. 

Namun, untuk sebagian besar peserta didik, terutama mereka yang belum menguasai keterampilan berpikir dan belajar, guru tetap menjadi katalis penting. 

Demikian juga hal nya dalam kapasitas penelitian independen, kapasitas ini hanya mungkin setelah terjadi interaksi dengan guru atau mentor intelektual. 

Peran guru dalam keberhasilan proses pendidikan sesungguhnya amat krusial, apalagi pada tahap awal pendidikan dimana citra diri pelajar terbentuk. Tuntutan terhadap guru semakin tinggi pada  pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah tertinggal, kemampuan guru untuk memotivasi pelajar untuk hadir di sekolah amat penting untuk pelaksanaan wajib belajar yang dicanangkan pemerintah. 


https://www.joyinmyworld.com/2020/07/guru-pendidik-professional.html

Wabah Corona dan Tanda-Tanda Akhir Zaman


 


Kedatangan Yesus yang kedua kali pasti terjadi, karena itu dikatakan oleh Tuhan Yesus Sendiri. Tapi, Yesus tak pernah memberikan jadwal tentang kedatanganNya. Itulah sebabnya kita diminta berjaga-jaga atau waspada.

 

Ramalan tentang Jadwal kedatangan Yesus tak perlu dilakukan.Pada wabah corona yang melanda dunia, ini banyak orang juga meramalkan kedatangan Yesus atau berkhirnya zaman. Ini tentu saja tak memiliki landasan Alkitab. Karena kedatangan Yesus adalah tiba-tiba, dan tak ada seorang pun yang dapat mengetahui jadwal kedatangan Yesus, atau berakhirnya zaman, untuk kemudian masuk dalam kekekalan.


KEDATANGAN YESUS TIBA-TIBA

Matius 25: 37 menjelaskan Kedatangan Tuhan Yesus, atau hari terakhir itu seperti pada masa Nuh. Pada zaman Nuh, masyarakat pada waktu itu tidak peduli dengan datangnya air bah seperti yang dikatakan Allah pada Nuh. Sebaliknya, mereka hidup untuk kesenangan diri, tanpa peduli pada Allah yang berdaulat yang harus mereka taati. Orang-orang yang hidup tidak benar itu akhirnya mati oleh air bah, tanpa mampu menyelamatkan diri mereka.


Ketiba-tibaan kedatangan Tuhan Yesus juga digambarkan seperti dua orang yang kerja di ladang, yang seorang akan dibawa, dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kedua gambaran itu sesungguhnya menunjukkan hal yang sama, yaitu kedatangan Yesus tiba-tiba, seperti pencuri, tidak ada yang tahu.


Yang perlu dipahami adalah Tuhan Yesus bukan pencuri, meski kedatangannya tiba-tiba, tapi ketika Yesus datang semua orang yang percaya, yang menantikan kedatangan Yesus pasti akan tahu. Karena kedatangan yesus adalah menjemput orang yang percaya.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.joyinmyworld.com/2020/07/wabah-corona-dan-tanda-tanda-akhir-zaman.html