Hubungan Agama dan Negara dalam Pendidikan di Indonesia


     


         



Learn more about Corel WordPerfect Office Hubungan agama dan negara dalam negara Pancasila sesungguhnya sudah final. Indonesia bukan negara agama dan juga bukan negara sekuler. Meski Indonesia memosikan agama pada tempat terhormat. Dengan demikian agama menjadi landasan bagi kehidupan bangsa Indonesia yang secara khusus dinyatakan dalam sila ketuhanan yang maha esa.


Agama-agama di Indonesia diharapkan kontribusinya untuk pembangunan bangsa, demikian juga hal nya dalam bidang pendidikan. Untuk memberikan kontribusi maksimalnya agama-agama tidak boleh lengket dengan politik, agama tidak boleh membiarkan dirinya dikooptasi oleh kekuatan politik tertentu. Agamaisasi politik, atau politisasi agama keduanya akan merugikan agama itu sendiri.



Pemisahan Agama dan Negara.

Meskipun agama dan negara adalah dua entitas yang terpisah dan berbeda, namun pemisahan mutlak di antara keduanya, tidak mungkin dilakukan. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, agama dan negara sebenarnya “disatukan dan diintegrasikan di dalam diri setiap individu.” Setiap individu pada saat yang sama adalah warga dari negara dan juga anggota lembaga agama. Setiap orang adalah, makhluk religius dan politik pada saat yang sama. jadi ide pemisahan mutlak dari perspektif agama sebagai “organisme” tetapi bukan sebagai “lembaga,” dari sudut pandang anggota lembaga agama yang pada saat yang sama adalah warga negara dan mungkin penguasa.

Kedua, penolakan  terhadap ide pemisahan mutlak didasarkan pada keyakinannya bahwa selalu ada “karakter religius” di dalam negara dan “dimensi politik” di dalam agama. Mengenai hal ini Mark Juergensmeyer di dalam bukunya, The New Cold War? Religious Nationalism Confronts the Secular State,  telah berhasil menegaskan argumentasi ini. Darmaputera setuju dengan Juergensmeyer bahwa salah satu kesalahan besar dari nasionalisme sekuler adalah penegasannya bahwa politik bisa menyingkirkan agama. Dengan mengklaim bahwa politik bisa menyingkirkan agama, nasionalisme sekuler telah menyebabkan serangan balik yang diwakili oleh nasionalisme religius.Tidaklah mengherankan bahwa kaum nasionalis religius dipersatukan, di dalam istilah Juergensmeyer, “oleh musuh bersama – nasionalisme sekuler Barat – dan harapan yang sama bagi kebangkitan agama di dalam ruang publik.” Dengan demikian agama tidak bisa dipisahkan dari politik.

Juergensmeyer telah membuktikan bukan saja aspek politik dari agama, tetapi juga karakter religius dari negara. Nasionalisme sekuler, menurut Juergensmeyer, merupakan sejenis agama karena ia meliputi “doktrin, mitos, etika, ritual, pengalaman, dan organisasi sosial.”Garis antara nasionalisme sekuler dan agama selalu sangat tipis.

Dengan demikian ideologi-ideologi sekuler sama sekali tidak sekuler. Setiap ideologi, sebenarnya berfungsi sebagai “supra-agama, agama-sipil, atau agama-semu.” Dengan demikian, “politik murni” atau “agama murni” tidak pernah ada di dalam realitas. “Persimpangan” antara kedua entitas ini menimbulkan pertanyaan dasar, Bagaimana keduanya harus dihubungkan sedemikian rupa sehingga agama bisa melaksanakan tanggung jawab politisnya, dan negara melaksanakan tanggung jawab religiusnya, tanpa melanggar otonomi dan integritas masing-masing. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat relevan bagi Indonesia.

Di dalam konteks Indonesia, Pancasila adalah satu-satunya alternatif yang paling baik jika Indonesia ingin menjaga kesatuan dan keberagamannya. Menurut Pancasila, agama dan negara tidak boleh sepenuhnya dilebur, atau dipisahkan secara mutlak. Di dalam berhubungan dengan dua ideologi yang berkonflik di antara bapak-bapak pendiri bangsa tahun 1945 – apakah Indonesia Merdeka akan didasarkan pada “dasar sekuler” dimana agama secara mutlak dipisahkan dari negara, atau, apakah akan didirikan atas “dasar agama” dimana negara diatur berdasarkan agama – solusi yang ditawarkan oleh Pancasila adalah bahwa Indonesia tidak akan menjadi negara sekuler atau negara agama.

Pemisahan agama yang ketat dari negara, yang merupakan tanda cara berpikir Barat, tidak cocok bagi Indonesia yang sangat religius. Posisi agama yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia menjadikan pilihan negara sekuler sangat tidak mungkin.

 

Peran penting agama dalam pendidikan.


Agama memiliki peran pemersatu, dan agama juga harus diakui memiliki peran penting di dalam pendidikan. Mengutip apa yang dikatakan Paulo Freire, “Setiap proyek pendidikan bersifat politis dan penuh ideologi.Masalahnya adalah untukkepentingan atau menentang kepentingan siapa politik pendidikan itu diarahkan.”  Pendidikan nasional Indonesia kehilangan arah, karena tidak konsistennya elit di negeri ini untuk berpegang pada Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 45. Politik pendidikan nasional belum diarahkan pada kebutuhan seluruh rakyat Indonesia, dan masih melayani kepentingan tertentu. Itulah sebabnya nasionalisme Indonesia terus tergerus. Apabila pemerintah konsisiten berpegang pada Pancasila maka agama-agama yang ada di Indonesia dapat memberikan kontribusi positifnya dalam membangun pendidikan nasional Indonesia dalam bingkai Pancasila dan semangat bhinekatunggal ika.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

Negara Agama Versus Negara Sekuler



Menulis Karya Ilmiah Tidak Memerlukan Bakat



Menulis Karya Ilmiah Tidak Memerlukan Bakat



Menulis Tidak Memerlukan Bakat

 




Menulis tidak memerlukan bakat, semua orang bisa menulis  asalkan memiliki ketekunan, dan terus meningkatkan kemampuan menulisnya.

Peningkatan kemampuan menulis setidaknya terkait dengan pengetahuan tentang penalaran dan pengetahuan bahasa tulis. 

Kemampuan penalaran dapat ditingkatkan dengan banyak membaca. Demikian juga perihal ide atau gagasan sebagai syarat utama menulis, itu di dapat melalui membaca. 

Menulis adalah merekam, menyimpan dan mendokumentasikan apa yang kita baca, mengonstruksinya, menata kembali, kemudian memproduksi sesuatu yang bermanfaat. 

Kita tentu setuju bahwa bahasa mempengaruhi pikiran, dan demikian juga pikiran mempengaruhi bahasa. 

Menghasilkan karya tulis yang baik membutuhkan kemampuan bernalar, dan juga kemampuan bahasa tulis, keduanya di dapat melalui membaca dan berlatih menuliskan apa yang telah dibaca.


Binsar Antoni Hutabarat

Menulis Tidak Memerlukan Bakat

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Kebijakan Kebebasan Beragama di Indonesia

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Kebijakan Kebebasan Beragama di Indonesia: TEMPAT BELAJAR MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!   KONTRIBUSI REFORMASI  TERHADAP KEBIJAKAN KEBEBASAN BERAGA...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Membuat Laporan Buku yang Menarik

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Membuat Laporan Buku yang Menarik:   Membuat Laporan Buku yang Menarik  merupakan kebutuhan untuk mememenuhi proses pembelajaran.   Membuat laporan buku, atau baca...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Pancasila Rumah Bersama Kita

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Pancasila Rumah Bersama Kita:   TEMPAT BELAJAR MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!   Konflik agama sesungguhnya bukan problema baru, itu telah ada...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Ledakan di Gereja Katedral Makasar

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Ledakan di Gereja Katedral Makasar: TEMPAT BELAJAR MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI! Ledakan yang di duga bom bunuh diri di Gereja Katedral Mak...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Mewaspadai Konflik Agama

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Mewaspadai Konflik Agama: TEMPAT MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI!   https://bit.ly/3cDiTW5 Mewaspadai konflik agama dalam masyarakat In...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Mensyukuri Realitas Keragaman Indonesia

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Mensyukuri Realitas Keragaman Indonesia:   TEMPAT MENULIS KARYA ILMIAH, JURNAL AKADEMIK, KLIK DISINI! Mensyukuri realitas keragaman Indonesia adalah cara bijaksana meraw...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Perdamaian Abadi Palestina Dan Israel

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Perdamaian Abadi Palestina Dan Israel:   Perdamaian Abadi Palestina dan Israel   Kita bersyukur gencatan senjata antara Palestina dan Israel dapat terwujud...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Covid 19 Bukan Tindakan Tuhan

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Covid 19 Bukan Tindakan Tuhan: Computer    Sains menemukan bahwa covid-19 merupakan akibat tindakan manusia yang menghancurkan bumi secara global dan mencip...

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Pelatihan Pengembangan Kurikulum

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Pelatihan Pengembangan Kurikulum:     Pelatihan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Teologi Secara online jadi kebutuhan pada s...